Once, aku liat film barat yang endingnya si cewe dan si cowo
menikah, terus bride nya ngelempar buket bunga buat gadis – gadis yang ada
disana terutama yang belum menikah. Terus aku tanya ke mama “mam, di barat pas
nikahan budayanya lempar buket.. kalo dikita (sunda-Bogor) apa?”
Disitu aku dikenalin sama budaya sunda untuk upacara
pernikahan yaitu “tepak seeng” seeng disini dibacanya se’eng yaa bukan seeeng
dan pake vokal ‘E’ seperti dalam kata ‘tema’. Se..eng. oiya, apa sih tepak
seeng itu??
Dalam KBBI tepak artinya tepuk atau memukul, dalam istilah
sunda seeng artinya dandang (alat dapur yang digunakan untuk memasak nasi atau
mengkukus makanan)
(seeng)
Jadi, secara bahasa dapat diartikan kalau tepak seeng itu memukul
dandang. Aneh gak si, didalam acara pernikahan ada acara pukul – pukulan
dandang?? Aku sempet berfikiran kalo itu hal yang lumayan aneh, tapi jangan
salah tepak seeng ini merupakan adat melamar yang dibalut dengan adegan pencak
silat.
Kesenian ini tumbuh di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang
merupakan pusat aliran seni bela diri yang sangat terkenal. Pada mulanya Kesenian Seni Parebut Seeng ini terkait dengan upacara adat
pernikahan yang dilakukan sebelum upacara akad nikah, yakni setelah kedua belah pihak yang akan
bebesanan saling memperkenalkan diri.
Dahulu, sebelum tahun 80-an, yakni ketika infrastruktur jalan
dan transportasi belum berkembang pesat, keluarga calon pengantin pria
untuk sampai ke tempat calon pengantin wanita, mereka berjalan kaki,
seberapa pun jauhnya, diantar oleh kerabat dan handai-taulan sambil
diiringi oleh tetabuhan kendang penca. Mereka membawa berbagai macam
barang dan makanan untuk dipersembahkan kepada calon pengantin wanita,
seperti macam- macam bumbu, makanan, alat-alat dapur, pakaian,
sirih-pinang, bahkan kambing pun dituntunnya. Kini, setelah hal tersebut
berkembang pesat, tradisi tersebut perlahan-lahan hilang. Kesenian ini
terkait dengan upacara adat pernikahan yang dailakukan sebelum upacara
akad nikah. Pelaksanaan atraksinya dilakukan setelah kedua belah pihak
yang akan bebesanan memperkenalkan diri.
Kedatangan mereka biasanya disambut dengan sukacita oleh keluarga calon
mempelai wanita, kemudian mereka melaksanakan upacara adat penyambutan.
Dimulai oleh, setelah wakil dari rombongan calon pengantin pria,
datang ke rumah calon pengantin wanita, seorang wakilnya yang disebut
bobotoh, beruluk-salam, memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan
tujuan nya. Ia kedatangannya. Keluarga calon pengantin wanita, yang
juga diwakili oleh bobotoh, kemudian membalas salam dari keluarga calon
pengantin pria seraya mengatakan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya
dapat dipahami. Akan tetapi, untuk menguji bahwa calon pengantin pria
itu benar-benar lelaki perkasa, pihak keluarga calon pengantin pria
mengajukan tantangan, yakni akad nikah hanya bisa dilaksanakan jika
menceritakan bahwa maksud kedatanganya ialah untuk melamar dan jika
lamaran itu diterima maka pihak calon pengantin wanita harus
sanggupdapat merebut seeng yang dibawa oleh salah seorang pesilatJawara
dari pihak pria. Setelah maksudnya itu selesai diutarakan, maka pPihak
calon pengaagntin wanita menjawab maksud kedatangan mereka dan menerima
lamaran serta bersedia untuk merebut seeng tersebutmenerima tantangan
tersebut. Kedua pesilat Jawara dari kedua belah pihak lalu kemudian
berlaga saling mengadu keterampilan silatnyakekuatan. Dahulu, pihak yang
harus bisa merebut seeng tersebut adalah pihak calon pengantin pria,
namun kini diubah menjadi sebaliknya.

Kedua petandang Mereka maju ke kalangan, memasang kuda-kada dan sebelum
mereka beradu ketangkasan, terlebih dahulu mereka sambil memperlihatkan
jurus-jurus silatnya. Setelah itu mereka beradu ketangkasan dengan cara
saling pukul, saling tendang, dan masing-masing berusaha untuk menangkis
dan menghindar setiap serangan lawan. Jawara yYang satu berusaha untuk
mempertahankan seeng yang digendong dan Jawara yang satunya lagi
berusaha untuk merebutnya. Pergulatan itu akan berakhir jika Jawara dari
salah satu pihak yang berusahacalon pengantin wanita dapat merebut
menyentuh seeng tersebut. dapat menyentuh seeng yang digendong di
punggung salah seorang pesilat.
Jika seeng telah dapat direbut atau ditepak, maka pergulatan dihentikan
dan acara pun dilanjutkan dengan seserahan, yakni menyerahkan calon
pengantin pria dan seluruh barang yang dibawaannya pihak calon pengantin
pria kepada pihak calon pengantin wanita. Barang-barang yang dibawa
antara lain berupa makanan yang ditandu dalam dongdang, alat-alat dapur,
pakaian, kambing, kayu bakar, sirih-pinang, dan sebagainya. Setelah itu
barulah akad nikah dilaksanakan mulai.
Cukup menarik kan tepak seeng?? Tapi sayang budaya ini
perlahan luntur terkena arus globalisasi. So kita para kader muda pembela
negara jangan sampai lengah untuk tetap melestarikan budaya bangsa terutama
didaerah domisili masing – masing.
Sekiranya itu aja yang bisa aku sampaikan, kalau ada
pertanyaan leave a comment aja ^^
See you at next post
Source:
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
http://sasakalabudaya.blogspot.co.id
http://kbbi.web.id/
Google.com
Google.com




0 comments:
Post a Comment