Kebudayaan Bogor - Tepak Seeng

by 5:45 AM 0 comments


Once, aku liat film barat yang endingnya si cewe dan si cowo menikah, terus bride nya ngelempar buket bunga buat gadis – gadis yang ada disana terutama yang belum menikah. Terus aku tanya ke mama “mam, di barat pas nikahan budayanya lempar buket.. kalo dikita (sunda-Bogor) apa?” 

Disitu aku dikenalin sama budaya sunda untuk upacara pernikahan yaitu “tepak seeng” seeng disini dibacanya se’eng yaa bukan seeeng dan pake vokal ‘E’ seperti dalam kata ‘tema’. Se..eng. oiya, apa sih tepak seeng itu??
Dalam KBBI tepak artinya tepuk atau memukul, dalam istilah sunda seeng artinya dandang (alat dapur yang digunakan untuk memasak nasi atau mengkukus makanan)

 (seeng)

 Jadi, secara bahasa dapat diartikan kalau tepak seeng itu memukul dandang. Aneh gak si, didalam acara pernikahan ada acara pukul – pukulan dandang?? Aku sempet berfikiran kalo itu hal yang lumayan aneh, tapi jangan salah tepak seeng ini merupakan adat melamar yang dibalut dengan adegan pencak silat.

Kesenian ini tumbuh di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang merupakan pusat aliran seni bela diri yang sangat terkenal. Pada mulanya Kesenian Seni Parebut Seeng ini terkait dengan upacara adat pernikahan yang  dilakukan sebelum upacara akad nikah, yakni setelah kedua belah pihak yang akan bebesanan saling memperkenalkan diri.

Dahulu, sebelum tahun 80-an, yakni ketika infrastruktur jalan dan transportasi belum berkembang pesat, keluarga calon pengantin pria untuk sampai ke tempat calon pengantin wanita, mereka berjalan kaki, seberapa pun jauhnya, diantar oleh kerabat dan handai-taulan sambil diiringi oleh tetabuhan kendang penca. Mereka membawa berbagai macam barang dan makanan untuk dipersembahkan kepada calon pengantin wanita, seperti macam- macam bumbu, makanan, alat-alat dapur, pakaian, sirih-pinang, bahkan kambing pun dituntunnya. Kini, setelah hal tersebut berkembang pesat, tradisi tersebut perlahan-lahan hilang. Kesenian ini terkait dengan upacara adat pernikahan yang dailakukan sebelum upacara akad nikah. Pelaksanaan atraksinya dilakukan setelah kedua belah pihak yang akan bebesanan memperkenalkan diri.
Kedatangan mereka biasanya disambut dengan sukacita oleh keluarga calon mempelai wanita, kemudian mereka melaksanakan upacara adat penyambutan. 

Dimulai oleh, setelah wakil dari rombongan calon pengantin pria, datang ke rumah calon pengantin wanita, seorang wakilnya yang disebut bobotoh, beruluk-salam, memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan tujuan nya. Ia  kedatangannya. Keluarga calon pengantin wanita, yang juga diwakili oleh bobotoh, kemudian membalas salam dari keluarga calon pengantin pria seraya mengatakan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya dapat dipahami. Akan tetapi, untuk menguji bahwa calon pengantin pria itu benar-benar lelaki perkasa, pihak keluarga calon pengantin pria mengajukan tantangan, yakni akad nikah hanya bisa dilaksanakan jika menceritakan bahwa maksud kedatanganya ialah untuk melamar dan jika lamaran itu diterima maka pihak calon pengantin wanita harus sanggupdapat merebut seeng yang dibawa oleh salah seorang pesilatJawara dari pihak pria. Setelah maksudnya itu selesai diutarakan, maka pPihak calon pengaagntin wanita menjawab maksud kedatangan mereka dan menerima lamaran serta bersedia untuk merebut seeng tersebutmenerima tantangan tersebut. Kedua pesilat Jawara dari kedua belah pihak lalu kemudian berlaga saling mengadu keterampilan silatnyakekuatan. Dahulu, pihak yang harus bisa merebut seeng tersebut adalah pihak calon pengantin pria, namun kini diubah menjadi sebaliknya.


Kedua petandang Mereka maju ke kalangan, memasang kuda-kada dan sebelum mereka beradu ketangkasan, terlebih dahulu mereka sambil memperlihatkan jurus-jurus silatnya. Setelah itu mereka beradu ketangkasan dengan cara saling pukul, saling tendang, dan masing-masing berusaha untuk menangkis dan menghindar setiap serangan lawan. Jawara yYang satu berusaha untuk mempertahankan seeng yang digendong dan Jawara yang satunya lagi berusaha untuk merebutnya. Pergulatan itu akan berakhir jika Jawara dari salah satu pihak yang berusahacalon pengantin wanita dapat merebut menyentuh seeng tersebut. dapat menyentuh seeng yang digendong di punggung salah seorang pesilat.
Jika seeng telah dapat direbut atau ditepak, maka pergulatan dihentikan dan acara pun dilanjutkan dengan seserahan, yakni menyerahkan calon pengantin pria dan seluruh barang yang dibawaannya pihak calon pengantin pria kepada pihak calon pengantin wanita. Barang-barang yang dibawa antara lain berupa makanan yang ditandu dalam dongdang, alat-alat dapur, pakaian, kambing, kayu bakar, sirih-pinang, dan sebagainya. Setelah itu barulah akad nikah dilaksanakan mulai. 

Cukup menarik kan tepak seeng?? Tapi sayang budaya ini perlahan luntur terkena arus globalisasi. So kita para kader muda pembela negara jangan sampai lengah untuk tetap melestarikan budaya bangsa terutama didaerah domisili masing – masing.
Sekiranya itu aja yang bisa aku sampaikan, kalau ada pertanyaan leave a comment aja ^^ 

See you at next post


Source:
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
http://sasakalabudaya.blogspot.co.id
http://kbbi.web.id/ 
Google.com

tey

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments:

Post a Comment